saefulr08's blog

Just another weblog

Curug Cijalu

Objek wisata Curug Cijalu berada di Kabupaten Subang. Air terjunnya yang tinggi bergemuruh, sungainya yang jernih berbatu, serta kabut yang kerap muncul dengan tebal telah lama menggoda para peminat wisata alam. Anda tertarik?

Dari jalan raya yang menghubungkan Subang dan Purwakarta, di sekitar perbatasan antara keduanya, ada belokan―dilengkapi plang dan petunjuk arah yang cukup jelas―ke selatan yang akan mengantarkan Anda menuju objek wisata Curug Cijalu. Jaraknya sekitar tujuh kilometer. Jalan aspal meliuk dan menanjak melewati Desa Cipancar, kemudian berganti jalan batu yang pada beberapa titik hanya menyisakan tanah yang licin di musim hujan. Saat memasuki perkebunan teh dan kina yang langsung berbatasan dengan kawasan objek wisata, kesegaran akan menyergap Anda. Pucuk-pucuk teh tampak seperti karpet hijau yang ditumbuhi tegakan pepohonan. Jika tak sedang berkabut, genangan Waduk Jatiluhur di Purwakarta terlihat dari sana.

Meskipun sering kali sepi pada hari-hari biasa, objek wisata di wilayah Kecamatan Sagalaherang ini selalu diserbu wisatawan pada musim liburan. Pada malam pergantian tahun misalnya, tempat itu bisa menjadi lautan manusia dan para pemilik warung akan sangat beruntung. Para petualang muda dari Jakarta, Bekasi, Karawang dan tentu saja Subang berpesta dengan gaya-gaya kebanggannya. Mereka datang dengan seperangkat alat kemping seperti tenda, tikar, panci dan gitar. Berfoto di depan air terjun, mandi bareng-bareng, dan bernyanyai sepanjang malam di bumi perkemahan, membuat pengalaman itu sangat mereka banggakan. Pesona Curug Cijalu siap diceritakan pada banyak orang.

Tetapi barangkali mereka tertipu, sebab tak satu pun dari dua terjun yang berada di objek wisata itu bernama Curug Cijalu! Yang ada hanyalah Curug Cikondang dan Curug Cilemper. Curug Cikondang tingginya sekitar lima belas meter, sedangkan Curug Cilemper mencapai lima puluh meter. Tak banyak wisatawan yang sadar bahwa sesungguhnya mereka belum berhak mengaku pernah melihat Curug Cijalu!

Pada pohon-pohon di sekitar kedua air terjun (curug) itu masih berkeliaran beberapa geng Lutung Jawa (Trachypitecus auratus), Surili (Presbytis comata), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Owa Jawa (Hylobates moloch) yang paling terancam punah di antara yang lainnya. Burung-burung juga masih cukup banyak: setiap pagi mereka meloncat-loncat sambil berkicau dan menghisap sari bunga Kaliandra. Menarik sekali memerhatikan tingkah polahnya. Seorang kawan dari LSM Konservasi Alam Nusantara (KONUS) mengatakan bahwa tempat ini sangat cocok untuk berlatih mengamati primata.

Lebih menggoda

Curug Cijalu yang sesungguhnya memang tak terlalu jauh dari bumi perkemahan. Sekitar satu kilometer di sebelah timur. Namun, karena diapit dua punggungan memanjang dan terjal, serta terlindungi oleh hutan yang mengagumkan, air terjun itu tak banyak diketahui para wisatawan.

Bagaimana mencapainya? Di tengah kebun teh, sekitar lima ratus meter sebelum pintu gerbang bumi perkemahan, ada sungai dangkal dengan arah aliran utara selatan, melintang memotong jalan. Tak ada jembatan, dan roda kendaraan Anda harus suka rela menggilasnya. Itulah Sungai Ci Jalu. Jika menyusuri sungai itu ke arah hulu, Anda akan berhadapan dengan Curug Cijalu: air terjun yang tingginya sekitar seratus meter dan memungkinkan seorang pemberani tiba-tiba menjadi pengecut!

Jaraknya memang tak terlalu jauh, paling-paling satu setengah kilometer. Tetapi perjalanannya dijamin menantang. Perlu setengah hingga satu jam untuk sampai di titik tujuan. Lama perjalanan tergantung kepiawaian Anda dalam meniti bongkah-bongkah batu di sepanjang sungai, atau meretas jalan menerobos semak belukar. Jika kabut sedang tebal-tebalnya, mungkin hanya lima meter jarak pandang yang tersisa.

Curug Cijalu jelas lebih menggoda. Dan sebuah cerita, barangkali hanya akan menyederhanakan kemegahannya. Pemandangan ke arah Curug Cijalu akan lebih menarik dan lebih jelas jika Anda naik ke punggungan di sebelah timur sungai. Di sana banyak celah untuk mengintipnya, dan dari posisi yang agak tinggi, Anda tak perlu terus-menerus mendongakkan kepala ketika menatap air yang seolah tercurah dari pucuk-pucuk pohon. Di kiri kanannya, ada dinding tebing yang dijamin membuat Anda merinding.

Keindahan Curug Cijalu, juga kesan manakutkan yang melekat di tubuhnya, membuat sebagian orang terkagum dan pantas menaruh hormat. Kenyataannya, ada saja orang-orang yang sengaja datang untuk bertapa dan memanjatkan doa: memohon apa yang menjadi impian dapat dikabulkan. Penghormatan dan kebiasaan berdoa semacam itu barangkali telah dilakukan sejak zaman dulu.

***

Curug Cikondang dan Cilemper termasuk ke dalam kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang yang sesungguhnya lebih pantas disebut Cagar Alam Gunung Sunda. Sedangkan Curug Cijalu, merupakan bagian dari Cagar Alam Tangkubanparahu. Kedua cagar alam itu memang berbatasan. Curug Cikondang, Cilemper dan Cijalu ternyata hanya sebagian kecil dari puluhan air terjun yang ada di utara kompleks Gunung Sunda-Tangkubanparahu. Banyak air terjun tinggi dan eksotis lainnya yang relatif jarang dilihat orang.

Terbentuknya banyak air terjun itu berkait erat dengan letusan dahsyat Gunung Sunda-Tangkubanparahu ratusan ribu tahun lalu. Lava panasnya yang mengalir melalui lembah-lembah kemudian membeku dan ujung-ujungnya membentuk air terjun. Proses itu nampaknya berulang beberapa kali. Cirinya, dalam satu aliran sungai dapat dijumpai beberapa air terjun: yang paling bawah tentu berasal dari aliran lava yang lebih tua.

Sayangnya, alam yang begitu dramatik di utara kompleks Gunung Sunda-Tangkubanparahu kalah populer oleh fenomena-fenomena di sisi selatannya, baik dalam pariwisata maupun perbincangan seputar ilmu kebumian. Sisi selatan (Bandung) memang lebih ngota dari sisi utara (Subang dan Purwakarta). Dan seperti biasa, yang jauh dan yang sulit ditempuh sering dilupakan meski sungguh-sungguh mengagumkan!***

Oka Sumarlin (Foto: Dokumentasi Survey Primata Endemik Jawa 2008)

Liburan

Lebaran adalah menghamburkan. Jadi libur lebaran saya menghamburkan waktu untuk tidur dirumah karena jarang – jarang bisa dirumah.

Terima Kasih

Rock Climbing atau lebih dikenal sebagai olahraga Panjat Tebing adalah olahraga yang menggunakan Tebing sebagai sarana olahraganya. Olahraga ini menuntut ketelitian, kecermatan, kehati-hatian, teknik, dan juga fisik yang kuat.
Dasar dari olahraga ini adalah peralatan, fisik yang kuat, ketenangan, dan teknik. Karena olahraga ini sangat berisiko, maka tidak banyak juga yang menggeluti olahraga ini. Namun banyak juga yang menjadi ketagihan setelah mencoba.
Olahraga ini menuntut peralatan yang dapat menjamin keselamatan kita. Perlengkapan seperti Tali, karabiner, figure 8, seat harness, ascender, descender merupakan peralatan minimal yang harus dipenuhi.
Fisik yang kuat diperlukan karena memang plahraga ini banyak menghabiskan stamina. Ketenangan diperlukan untuk dapat mengatasi keadaan dan mencapai hasil yang maksimal. Dan teknik adalah hal yang paling menentukan keberhasilan.
Pada dasar nya rock climbing adalah olahraga individu. Tapi di Indonesia jarang ada yang melakukannya. Mereka lebih memilih melakukan secara berkelompok. Karena selain dinilai lebih aman, dapat juga mengurangi biaya.